๐๐ž๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐ข๐ก๐š๐ง ๐ˆ๐ฆ๐š๐ง ๐๐ข ๐๐ฎ๐ฅ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐’๐ฎ๐œ๐ข

Beberapa waktu setelah Ramadhan berlalu, saat semua umat berlomba mengejar ampunan, namun aku justru hampir lepas dari yang selama ini aku percaya,

“Untuk apa semesta diciptakan bila akhirnya dihancurkan?”

"Sebelum semesta ini ada, ada apa ya? Sebelumnya lagi apa?", tanyaku berulang kali. 

Aku akui, imanku goyah.

Sakit sekali rasanya memikirkan hal yang bertentangan antara hati dan logika. Gelisah hingga air mata yang menitih karena terluka dengan logika.

Namun, Allah Maha baik.

Allah memberikan petunjuk kepada siapapun yang dikehendak-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Saat itu, tidak sengaja aku menemukan tulisan Alvi Syahrin yang sempat nyaris atheis. Beliau mengatakan,

 

“Suatu ketika, saya menemukan Al-Qur’an yang sudah berdebu di kamar. Saya ambil Al-Qur’an tersebut. Sebelum membukanya, saya benar-benar berharap dan berdoa kepada Tuhan, tolong, tolong beri jawaban, tolong tunjukkan jalan”, tutur penulis buku itu.

 

Beliau membuka lembar Al-Qur’an secara acak dan menemukan ayat yang bisa menggetarkan hatinya. Lalu, dalam tulisannya tersebut, beliau mencantumkan Surah Ar-Ra’d ayat 2, setelah membacanya akupun merasakan sedikit kelegaan, namun masih ada sedikit rasa yang mengganjal.

Di tengah rasa frustasiku, aku coba untuk melakukan hal yang sama.

7 April 2022, setelah tarawih, aku mencobanya.


“Ya Allah tolong berikan petunjuk”, pintaku pada Allah.


Namun, aku tidak menemukannya hari itu. Aku tarik nafas dalam dan kembali beristigfar, akupun memilih untuk tidur.

8 April 2022, di tengah keraguan yang ada, aku masih terus berusaha menjalankan ibadah sebagai seorang muslim. Setelah sholat Magrib, aku buka Al-Qur’an, hari ini entah kenapa, aku ingin juga membaca terjemahannya, akupun pindah Al-Qur’an, aku cari ayat terakhir yang aku baca setelah magrib kemarin.

Di sini, titik aku percaya dan yakin bahwa aku hanya seorang hamba yang kecil. Tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah atas semesta dan seisinya.

7 April, setelah Magrib, aku membaca Qur’an dan berhenti pada akhir suatu surah, aku tidak tahu surah apa yang akan aku lanjutkan esok harinya. 8 April ternyata aku menemukan bahwa aku akan memulai membaca surah Ar-Ra’d dan aku kembali berjumpa dengan ayat berikut,


"Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu".

(QS. Ar-Ra’d Ayat 2)


Allah telah menujukkan surah yang bisa memulihkan imanku pada-Nya saat aku bahkan belum memintanya. 

๐˜ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ˆ’๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ-๐˜š๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menginjak 20 Tahun